B. Ketabahan Nabi Muhammad Saw. dalam Berdakwah _ SKI 4
B. Ketabahan Nabi Muhammad Saw. dalam Berdakwah
1. Ketabahan atas ancaman paman Nabi Muhammad Saw.
Pernahkah kalian membaca kisah tentang Abu Lahab? Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad Saw. yang selalu merintangi, mengancam dan menentang dakwah Nabi Muhammad Saw.
Pernah suatu hari ketika Nabi Muhammad Saw. sedang shalat, datang Abu Lahab meletakkan kotoran di atas punggung beliau. Abu Lahab terkenal sebagai orang yang paling gigih menentang dakwah Nabi. Demikian juga Istrinya. Ia sering meletakkan duri-duri di sepanjang jalan yang dilalui Nabi Muhammad Saw. Hal itu dilakukan agar Nabi Muhammad Saw. merasa kesakitan kakinya apabila melewati jalan tersebut di wakru fajar untuk salat ke masjid. Nabi Muhammad Saw. dengan sabar menjalani cobaan itu. Kejahatan mereka berdua akan mendapat balasan dari Allah Swt. seperti yang terdapat dalam al-Qur’an Surah al-Lahab/111 ayat 1-5:
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!
2. Tidaklah berguna baginya harta dan apa yang dia usahakan.
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).
4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
5. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal (QS. Al-Lahab [111]:1-5)
2. Ketabahan atas ancaman para penguasa Makkah
Penguasa Makkah tidak rela melihat Nabi Muhammad Saw. bertambah
pengikutnya. Mereka mengadakan pertemuan di Darun Nadwah. Membicarakan tentang
cara dan sikap apa yang dapat dipergunakan untuk merintangi dakwah Nabi
Muhammad Saw. Para penguasa Makkah memutuskan bahwa untuk merintangi
dakwah Nabi Muhammad Saw. adalah dengan cara menyebarkan kebohongan Rasulullah Saw., agar orang jangan sampai mengikuti dakwah dan menjauhkan diri dari
Nabi Muhammad Saw.
3. Ketabahan atas siksaan Kaum Kafir Quraisy
Berbagai cara dilakukan kaum kafir Quraisy untuk menghalangi dakwah Nabi
Muhammad saw, diantaranya ketika Nabi Muhammad saw melaksanakan salat di masjid
dilempari dengan kotoran binatang yang busuk baunya. Kotoran binatang itu mengenai
kepala Nabi Muhammad Saw. yang sedang sujud dalam salatnya. Kemudian datanglah
Fatimah putri Nabi membersihkan kotorannya. Setelah dibersihkan Rasulullah Saw.
melanjutkan salatnya.
Kaum kafir Quraisy juga bersepakat apabila Nabi Muhammad Saw. berjalan di
suatu tempat akan dipukul dengan pukulan yang keras. Mereka berpendapat apabila ini
dilakukan secara terus menerus Nabi Muhammad Saw. akan sakit dan tubuhnya
menjadi lemah. Fatimah kebetulan mendengar dan melaporkan hal itu ke Ayahnya
dengan menangis. Nabi Muhammad Saw. menjawab: “Hai anak perempuanku, diamlah
jangan kamu menangis!”
4. Ketabahan atas pemboikotan yang dilakukan Bani Hasyim
Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan pemboikotan? Pemboikotan sama
artinya dengan pengucilan. Kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani
Hasyim karena menganggap bahwa Bani Hasyim selama ini membela dan melindungi
Nabi Muhammad Saw. Dengan diboikotnya Bani Hasyim, Nabi dan umat Islam pada
waktu itu menderita kelaparan, kemiskinan, dan tidak bisa berhubungan dengan dunia
luar. Akibatnya, agama pun tidak bisa berkembang.
Isi pemboikotan itu adalah sebagai berikut:
a. Tidak boleh melakukan jual beli dengan Bani Hasyim, Bani Abdul Muthalib, dan
umat Islam.
b. Dilarang mengadakan perdamaian dengan keluarga Bani Hasyim, Bani Abdul
Muthalib, dan umat
Islam, kecuali jika Muhammad menyerahkan diri.
c. Tidak boleh mengadakan pernikahan dengan keluarga Bani Hasyim Bani Abdul
Muthalib, dan umat
Islam.
d. Dilarang berbicara dan menjenguk orang sakit dari keluarga Bani Hasyim, Bani
Abdul Muthalib,
dan umat Islam.
e. Tempat tinggal umat Islam diasingkan di bagian utara kota Makkah dan dijaga ketat
oleh kaum
Quraisy sehingga tidak dapat berhubungan dengan masyarakat Makkah.
Papan pengumuman pemboikotan ditempelkan di dinding Ka’bah. Pengumuman
pemboikotan akan dicabut apabila Nabi Muhammad Saw. menyerah atau diserahkan
untuk di bunuh. Umat Islam pada waktu itu bertahan tidak mau menyerahkan Rasulullah
walaupun mereka menderita.
Akhirnya tahun berganti tahun, papan pengumuman pemboikotan itu lenyap
dimakan rayap. Bersama lenyapnya papan pemboikotan itu, berakhirlah pemboikotan
terhadap Bani Hasyim. Dalam kenyataannya, pemboikotan pada saat itu tidak mampu
memaksa umat Islam untuk meninggalkan agamanya. Ketabahan mereka dalam
membantu dan membela Nabi Muhammad Saw. menyiarkan agama Islam, patut kita
contoh.
Sumber :
Bahren Ahmadi, 2020, SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM MI KELAS IV, Jakarta, Direktorat KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI
Komentar
Posting Komentar